Senin, 16 Juni 2025

UPGRADING PENGURUS RACANA ANDI PANGERAN PETTARANI DAN EMMY SAELAN MASA BAKTI 2025-2026


UPGRADING PENGURUS RACANA ANDI PANGERAN PETTARANI DAN EMMY SAELAN


Masa Bakti 2025–2026

“Membangun Semangat Kebersamaan Demi Terciptanya Pengurus Racana Petasan yang Aktif dan Progresif”
📍 Gedung Mini Teater Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar

Minggu, 16 Maret 2025
Gugusdepan 08.085 – 08.086

Pangkalan: Fakultas Ilmu Pendidikan UNM | Sekretariat: Jl. Tamalate I, Kampus FIP UNM

Langit fajar pada hari Minggu 16 Maret 2025 mengiringi langkah para pejuang muda Racana dengan semilir angin yang menghidupkan semangat baru. Di bawah naungan Gedung Mini Teater Fakultas Ilmu Pendidikan UNM. Di sanalah para pengurus Racana Andi Pangeran Pettarani dan Emmy Saelan masa bakti 2025–2026 berkumpul dalam satu irama: untuk saling mengenal lebih dalam, membangun solidaritas, serta menumbuhkan semangat juang demi kelangsungan organisasi yang mereka cintai. Upgrading ini bukan sekadar kegiatan formal, namun sebuah proses internalisasi nilai–nilai kepemimpinan, kekeluargaan, dan komitmen kolektif yang menjadi denyut nadi kehidupan Racana.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Gugusdepan 08.085–08.086, Bapak Bhakti Prima Findiga Hermuttaqien, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Racana adalah laboratorium kepemimpinan yang sesungguhnya tempat di mana gagasan tumbuh menjadi aksi, dan komitmen diuji melalui tantangan nyata. Beliau menegaskan bahwa pembinaan dalam Racana bukanlah proses yang instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, serta keberanian untuk terus belajar dan bertumbuh. Kehadiran beliau menjadi simbol kuat bahwa Racana bukan sekadar organisasi, tetapi ekosistem nilai yang menghidupi visi pendidikan karakter.

Upgrading ini dihadiri oleh seluruh pengurus Racana masa bakti 2025–2026, para pendamping pembina yang senantiasa menjadi penjaga arah organisasi, serta kakak-kakak Purna Bakti yang dengan penuh cinta tak henti menyalakan pelita pengalaman. Kebersamaan seluruh elemen ini menghadirkan atmosfer kekeluargaan yang hangat, sekaligus memperkuat pondasi kolaboratif dalam menjalankan roda organisasi. Setiap kehadiran yang terhitung adalah bagian dari mozaik kekuatan Racana, yang saling mengisi, saling menguatkan.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan solidaritas dan kesadaran kolektif antar pengurus, serta memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai tugas dan fungsi masing-masing dalam struktur organisasi. Lebih dari itu, upgrading ini juga bertujuan untuk meng-upgrade pengetahuan dan keterampilan setiap individu sebagai indikator kinerja yang berdampak langsung terhadap keberjalanan program-program Racana. Di sinilah tiap anggota tidak hanya dituntut untuk hadir secara fisik, tetapi juga secara utuh pikiran, hati, dan tindakannya menjadi satu kesatuan.

Sesi pertama diisi oleh Kakak Heri, seorang pembina berpengalaman yang membawakan materi mengenai kepemimpinan dalam konteks Pramuka Pandega. Beliau mengawali dengan mengurai makna kepemimpinan dari akar hingga cabangnya dengan membedakan antara pemimpin, kepemimpinan, dan unsur-unsur yang menyusun keduanya. Dalam konteks ambalan, beliau menekankan empat unsur penting kepemimpinan: pemahaman terhadap tugas dan tanggung jawab, penerapan sistem among, keterlibatan aktif dalam diskusi Racana, serta pengembangan keterampilan melalui praktik nyata baik dalam bentuk proyek, instruksi, kursus, maupun pelatihan. Kepemimpinan dalam Racana bukan soal memberi perintah, tetapi bagaimana seorang Pandega memberi teladan.

Kak Heri juga membahas Syarat Kecakapan Umum (SKU) secara mendalam. Beliau menjelaskan empat pokok utama SKU dan tujuannya dalam mendampingi proses perkembangan anggota. SKU bukan hanya alat ukur, tetapi peta perjalanan setiap Pandega dalam mengeksplorasi kapasitas dirinya. Lebih lanjut, materi beliau mencakup metode pembinaan, teknik evaluasi, serta kontribusi nyata kepada masyarakat. Penekanan pada kontribusi sosial menunjukkan bahwa kehadiran Racana tidak hanya relevan untuk anggotanya, tetapi juga untuk komunitas luas yang membutuhkan keberdayaan dan keteladanan.

Pemateri kedua, Kak Landi, hadir dengan materi yang lebih filosofis, namun tak kalah penting yakni Budaya Organisasi dan Adat Racana. Dengan gaya yang hangat namun penuh wibawa, beliau menjelaskan perbedaan antara lembaga dan organisasi  di mana lembaga lahir dari kebutuhan masyarakat, sedangkan organisasi tumbuh dari kehendak orang-orang yang memiliki visi yang sama. Di sinilah Racana berdiri: sebagai ruang di mana budaya, nilai, norma, dan kepemimpinan saling berkelindan membentuk jati diri bersama.

Budaya organisasi dalam Racana terdiri dari nilai-nilai seperti gotong royong, integritas, dan kerapian administrasi. Ia berkembang dalam dua bentuk: terbuka dan tertutup, fleksibel maupun transparan. Di sinilah kekhasan Racana sebagai organisasi yang adaptif namun tetap memegang teguh identitasnya. Sementara adat Racana sebagai kebiasaan yang dipegang teguh dan diturunkan dari generasi ke generasi ditentukan oleh unsur-unsur yang berpijak pada kode etik, nilai, prinsip, program, reward, punishment, dan pelestarian tradisi. Adat ini bukan sekadar formalitas, tetapi denyut moral yang menjadikan Racana bukan hanya organisasi, tetapi rumah nilai.

Tantangan yang dihadapi Racana dalam era modern sangat kompleks. Kak Landi menyoroti masalah seperti globalisasi, rendahnya minat generasi muda, keterbatasan sumber daya manusia, dan perubahan lingkungan sosial yang cepat. Namun, beliau tidak berhenti pada keluhan. Sebaliknya, ia menawarkan strategi transformasional, mulai dari memaksimalkan budaya anggota, menjaga nilai dan teladan, aktif dalam program kerja, hingga merawat tradisi sambil tetap terbuka terhadap inovasi. Semua ini menjadi bagian dari upaya membentuk Racana sebagai ruang tumbuh yang relevan, inklusif, dan berdaya tahan.

Kegiatan upgrading ini menjadi momen kontemplatif yang menyentuh hati, sekaligus membangun fondasi kuat bagi perjalanan organisasi ke depan. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus tantangan, Racana tetap menjadi tempat berpijak yang kukuh, tempat para Pandega belajar untuk setia pada nilai, tangguh dalam tindakan, dan rendah hati dalam pelayanan. Setiap materi yang disampaikan, setiap dialog yang terjadi, dan setiap semangat yang tumbuh dari diskusi hari itu adalah bukti bahwa Racana bukan sekadar tempat singgah, tapi rumah tumbuh bagi manusia pembelajar sejati.

Bangkitlah, wahai anak panah bangsa,
Bangkitlah dari titik diam menuju semesta pengabdian.
Bangkit bukan karena ditunjuk,
Tapi karena sadar bahwa ini adalah jalan juang.
Jangan biarkan langkahmu ragu,
Karena Ibu Pertiwi menunggumu,
Dengan dada terbuka dan harap yang tak putus.
Bangkitlah, Racanaku. Karena waktu tidak menunggu.
Dan bumi ini terlalu agung untuk kita tinggalkan sunyi.

BANGKITLAH RACANAKU PADA BUNDA PERTIWI

SALAM PRAMUKA

0 comments:

Posting Komentar