BUKA BERSAMA PCTR XV DAN PENGURUS RACANA ANDI PANGERAN PETTARANI DAN EMMY SAELAN
Ramadhan selalu membawa getar rasa yang berbeda. Ia bukan sekadar bulan, melainkan ruang waktu yang menghadirkan keheningan paling jujur, di mana manusia menepi dari riuh dunia dan kembali memandang ke dalam dirinya. Dalam nuansa suci dan syahdu inilah, Racana Andi Pangeran Pettarani dan Emmy Saelan menenun kebersamaan dalam Buka Puasa Bersama PCTR XV dan Pengurus Racana, yang digelar pada Minggu, 16 Maret 2025 di Gedung Koridor HM lt 2 Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar.
Hari itu, sejak pagi merekah, rona semangat telah terbit di wajah-wajah para reka. Langkah pertama dimulai dari perjalanan menuju Pasar Terong. Bukan sekadar belanja logistik, tetapi juga menapaki proses awal dari rangkaian kebersamaan. Suara tawar-menawar di pasar bersanding mesra dengan senyum dan candaan antar reka, menjadikan setiap detik di pasar terasa hidup dan penuh makna. Di antara sayur, bumbu, dan bahan masakan, terselip harapan akan kebersamaan yang lebih hangat dari sekadar hidangan di meja.
Sesampainya di Sanggar Racana Petasan, proses pemasakan pun dimulai. Tempat sederhana itu menjadi dapur cinta, tempat nilai gotong royong dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan. Setiap tangan yang memotong, mengaduk, dan mengecap rasa, bukan hanya bekerja mereka sedang berbagi jiwa. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Semua bergerak dalam satu irama: irama kesadaran bahwa Racana adalah rumah yang dijaga bersama, dijalani bersama, dan tumbuh bersama.
Saat senja mulai jatuh, seluruh hidangan siap dibawa ke lokasi kegiatan. Di Gedung Koridor HM lt 2, tikar digelar, sajian ditata, dan setiap orang menempati tempatnya dengan hati yang lapang. Menjelang adzan, aroma masakan memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang tak hanya menggugah rasa lapar, tetapi juga menggerakkan rasa syukur. Ketika suara adzan berkumandang lembut dari pengeras masjid kampus, semua menunduk dan membuka puasa bersama dengan gorengan hangat serta segelas es buah yang menyegarkan.
Tidak ada kemewahan, tetapi justru di sanalah letak keindahannya. Sederhana, tapi mengikat. Sehabis berbuka, semua reka bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan salat maghrib berjamaah. Dalam tiap gerakan salat yang tertib dan hening, terpatri ketenangan yang tidak bisa diciptakan oleh kata-kata. Kebersamaan dalam doa membuat malam itu lebih dari sekadar ritual, ia menjadi perjumpaan antara hati dan tujuan.
Setelah itu, santap malam dilanjutkan bersama. Makanan yang disiapkan sendiri terasa jauh lebih nikmat karena ditaburi peluh, tawa, dan keikhlasan. Rasa capai yang terselip tidak mengalahkan rasa hangat yang menyelimuti. Obrolan ringan, tawa yang meledak tiba-tiba, hingga diam yang saling mengerti, menjadi penanda bahwa Racana adalah ruang yang tidak pernah sepi dari kasih.
Menjelang malam berakhir, seluruh peralatan dicuci bersama. Piring-piring dilap bersih, alat masak disusun rapi kembali, ruangan dibereskan. Tidak ada satu pun yang pergi sebelum semuanya selesai. Kedisiplinan bukan hanya dibicarakan, tapi dihidupi. Dan ketika semuanya rampung, reka kembali ke kos masing-masing untuk beristirahat dan melanjutkan ibadah tarawih di tempat masing-masing.
Buka bersama ini bukan hanya kegiatan rutin yang terjadwal di kalender organisasi. Ia adalah ruang refleksi, ruang penyatuan, dan ruang penguatan bagi setiap individu yang memilih jalan pengabdian ini. Kebersamaan yang tumbuh dari aktivitas kecil seperti memasak dan makan bersama, sejatinya menjadi fondasi kuat dalam mengikat rasa sebagai satu keluarga besar.
Malam itu menjadi saksi bahwa nilai-nilai kepramukaan, nilai kekeluargaan, dan nilai pengorbanan tidak hanya hidup dalam teori dan baris-berbaris, tetapi menjelma dalam tindakan nyata yang paling sederhana. Dalam secangkir es buah yang dibagi, dalam sendok yang disuapkan, dan dalam sapaan hangat antar reka, terkandung jiwa Racana yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Bangkit bukan karena diminta,
tetapi karena panggilan dalam dada telah mengetuk dengan lembut dan lantang
sekaligus.
Bangkit bukan untuk dikenang,
melainkan untuk mewariskan semangat yang tidak pernah padam pada mereka yang
akan datang.
Bangkit karena jalan pengabdian ini tidak boleh putus,
karena masa depan bangsa berakar dari nilai-nilai yang dijaga dalam sunyi.
Bangkit sebagai nyala yang tak pernah padam,
di bawah langit dan di hadapan tanah ibu.
BANGKITLAH RACANAKU PADA BUNDA PERTIWI
SALAM PRAMUKA









.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)

